Tips Agar Terhindar Bayi Mencret - Qrah.Me

Rabu, 16 Januari 2019

Tips Agar Terhindar Bayi Mencret


Tips Agar Terhindar Bayi Mencret

Bayi mencret ingin lebih berisiko merasakan komplikasi dikomparasikan orang dewasa yang sedang merasakan diare. Bayi mencret dapat merasakan dehidrasi dengan cepat, bahkan dalam masa-masa dua jam sesudah diare bermula. Kondisi ini dapat sangat berbahaya, khususnya pada bayi baru lahir.

Bayi baru lahir, khususnya yang mengonsumsi ASI, memang menerbitkan tinja yang lebih encer dikomparasikan bayi yang mengonsumsi susu formula. Ini menciptakan ibu terkadang bingung menilai apakah tinja yang dikeluarkannya normal atau tidak.

Tinja normal pada bayi yang mengonsumsi ASI lazimnya berwarna kekuningan, bertekstur lembut, dan cair. Meski tidak tidak jarang kali terjadi, bayi baru bermunculan yang disusui ASI bisa buang air besar sampai lima kali sehari. Terkadang sebab perutnya penuh, ASI memicu saluran pencernaan sampai-sampai bayi bakal langsung buang air besar sesudah disusui.

Ketika usianya melalui satu bulan, bayi bisa buang air besar sejumlah satu sampai dua kali per hari. Sementara, bayi yang mengonsumsi susu rumus hanya buang air besar sekali sehari dengan tinja yang lebih keras dan lebih berbau.

Terkadang ibu sulit memisahkan apakah bayi merasakan diare atau melulu buang air besar yang lebih empuk dari biasanya. Curigai bayi sahabat sehat merasakan diare apabila terjadi evolusi frekuensi buang air besar, laksana tiba-tiba menjadi jauh lebih tidak jarang dengan jumlah yang banyak, bayi terlihat lemas, dan tinja berubah jauh lebih empuk atau lebih cair dari biasanya.


Kenali Penyebab Diare pada Bayi

Diare menjadi penyebab utama malnutrisi pada balita di negara-negara berkembang dampak polusi air dan perusakan makanan. Rotavirus sebagai penyebab penyakit gastroenteritis ialah salah satu dalil utama bayi mencret. Infeksi ini mengakibatkan gangguan pada drainase pencernaan bayi, sampai-sampai nutrisi pada makanan tidak terserap secara sempurna dan terbit cairan secara berlebihan.

Di samping itu, bayi pun dapat terjangkit oleh bakteri, parasit, ataupun virus beda dari benda-benda kotor di sekitarnya, dan dari lantai ketika dia memasukkan tangannya yang kotor ke mulut. Bayi mencret pun dapat diakibatkan oleh alergi, susu rumus yang tidak diubah dengan tepat, intoleransi laktosa, keracunan makanan, flu, konsumsi antibiotik, serta kelemahan enzim.

Bayi mencret bisa kehilangan tidak sedikit air dan elektrolit dari tubuh. Hal berikut yang dapat mengakibatkan dehidrasi. Bayi yang merasakan dehidrasi bisa dikenali dari firasat berikut:

  •     Mata cekung.
  •     Tampak lemah.
  •     Bibir kering dan pecah-pecah.
  •     Tidak terbit air mata saat menangis.
  •     Jarang buang air kecil.
  •     Urine berwarna lebih gelap dan bau dari biasanya.
  •     Tidak mau santap atau minum.
  •     Gelisah atau rewel.

Pada dehidrasi berat, bayi bisa terlihat mengantuk sebab kesadaran yang menurun, tangan dan kaki menjadi dingin, serta napas menjadi cepat. Bila tidak segera ditangani, dehidrasi bisa berujung pada kehancuran ginjal, kejang-kejang, bahkan syok sampai kematian.
Mencegah Dehidrasi pada Bayi Mencret

Kenali gejala-gejala utama yang menandakan bayi mencret, yaitu andai bayi terus-menerus menerbitkan tinja cair atau tinja, terlebih andai tinjanya disertai darah atau lendir. Demam dan muntah pun dapat menyertai mencret.

Segera kerjakan hal-hal berikut andai bayi sahabat sehat merasakan salah satu atau sejumlah gejala di atas:

  •     Untuk menangkal dehidrasi, pastikan dia mendapat asupan cairan yang
  •     Pada bayi berusia di bawah 6 bulan, berikan ASI laksana biasa dengan ekstra pemberian ASI masing-masing kali ia mencret atau muntah. Bagi anak dan bayi berusia lebih dari 6 bulan, dapat diserahkan larutan oralit masing-masing kali mencret atau muntah. Gunakan air bersih saat membuat larutan oralit.
  •     Dosis pemberian cairan oralit ialah setengah cawan untuk anak berusia di bawah 2 tahun, dan satu cawan untuk anak berusia di atas 2 tahun, berikan masing-masing kali mencret atau muntah.
  •     Hindari menyerahkan obat antidiare pada bayi, sebab obat ini dapat mengakibatkan efek samping serius. Obat jenis ini baru boleh diberikan bilamana anak telah berusia 12 tahun ke atas.
  •     Tetap berikan makanan padat andai bayi sahabat sehat telah berusia enam bulan ke atas. sahabat sehat bisa mencoba menyerahkan nasi, pisang, puree (bubur) apel, roti kering, pasta, atau kentang tumbuk. Namun, hindari makanan padat andai dia muntah terus-menerus. Tidak masalah andai bayi tidak hendak makan, namun pastikan guna untuk memberikannya lumayan cairan supaya tidak terjadi
  •     Pemberian probiotik mungkin berfungsi untuk menolong mengatasi bayi mencret. Akan tetapi, riset menunjukkan melulu dua jenis bakteri baik yang berfungsi untuk diare pada anak, yakni Lactobacillus rhamnosus dan Saccharomyces boulardii.
  •     Berikan syrup atau tablet zinc pada anak sekitar 10 hari berturut-turut. Dosis pemberian zinc dapat mengikuti resep dokter.

Pemberian antibiotik tidak selalu dibutuhkan dalam mengobati bayi diare. Jika diakibatkan oleh virus, antibiotik tidak bakal memberi manfaat. Karena itu, dokter melulu akan menyerahkan antibiotik andai diare diakibatkan oleh bakteri.

Sebagai tahapan pencegahan, sebisa barangkali berikan ASI dikomparasikan susu formula. Bayi yang disusui ASI ingin lebih tidak berisiko merasakan diare, sebab kandungan tertentu dalam ASI ternyata bisa menghambat pertumbuhan bakteri penyebab mencret dan memperkuat sistem kekebalan tubuhnya.

Di samping itu, kebersihan ialah kunci utama menangkal bayi mencret. Selalu cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan sebelum berinteraksi dengan bayi, terutama sesudah sahabat sehat buang air. Di samping itu, cuci tangan kita sendiri tiap kali berlalu mengubah popoknya guna untuk menghindari penyebaran bakteri ke anggota family lain.

Pastikan pun bayi sahabat sehat sudah divaksinasi untuk menangkal infeksi rotavirus penyebab diare. Vaksinasi rotavirus umumnya diserahkan kesatu kali ketika bayi berusia 6-14 minggu, lantas yang kedua sesudah 4-8 minggu dari pemberian kesatu, dan terakhir saat bayi berusia 8 bulan.

Bunda tidak butuh panik, sebab umumnya situasi bayi mencret bisa mereda dengan sendirinya. Namun segera periksakan ke dokter anak andai mencret meningkat parah, terutama andai ada tanda-tsahabat sehat dehidrasi. Periksakan pun ke dokter bila Si Kecil demam dan/atau muntah lebih dari 24 jam, terdapat darah pada tinjanya, serta bila perutnya tampak atau teraba kembung.                       
Comments


EmoticonEmoticon